1. Rasa percaya ku telah tergadai dengan murahnya di pasar kaget sana
    Ditukar dengan seonggok jelaga, bekas terbakarnya api merah jingga
    Diobral dengan mudahnya seakan tak memiliki harga
    Maka diriku sekarang hanyalah sebentuk jiwa tanpa percaya
    Percaya ku tak bersisa
    Bahkan padamu pun begitu pula
    Mereka bilang itu tak mengapa
    Percaya itu kan tumbuh seperti semula
    Tinggal tunggu nanti saja
    Sudah kubilang percayaku tak lagi bersisa!
    Kalian bukan dewa, tak bisa lagi kuyakini kata demi kata
    Bahkan pada diriku begitu juga
    Tak mampu lagi kusampaikan suara, tak ada yakin yang bisa kubangga
    Aku manusia tanpa percaya
    Kalah berkali-kali di perjudian yang sama, apa mau dikata, kartuku merah semua
    Hingga terlego harta terakhir yang kupunya
    Di pasar kaget terakhir di ujung jalan pertama



    28 Mei 2012
    Terkubur rapat dalam selimut

  2. The Magic Numbers - I See You You See Me

  3. Mari menggalau sambil bergoyang :))

    Oke, jadi masing-masing dari kita pasti punya momen-momen menikmati lagu-penuh-kegalauan-yang-dapat-mendorong-tangan-untuk-mengambil-pisau-dapur-atau-tali-jemuran-terdekat bukan? Penyebabnya yaa gak jauh-jauh dari masalah hati. Either ditolak, menolak, diputus, memutus, dihalang-halangi, menghalang2i, dsb. Intinya masalah hati :).

    Lagu-lagu itu seakan-akan menjadi perwakilan dari suara hati, jeritan diri, atau ungkapan apapun yang ingin disampaikan dari buah pikiran terdalam, ketika sakit melanda, kecewa terasa, atau perih membahana.

    Lagu-lagu itu menjadi ajang curhat-curhat colongan, yang rasanya ingin selalu dikumandangkan, diteriakkan, dinyanyikan dengan syahdu dan khusuk, kapanpun-dimanapun, baik di ruang karaoke, di kamar mandi, di mobil, atau di timeline twitter dengan hashtag nowplaying :D.

    Lagu-lagu itu menjadi pengingat, bahwa rasa sayang itu pernah ada, bahwa rasa sakit itu pernah melanda, dan bahwa kita pernah bersama.

    Kebetulan sekali, beberapa hari yang lalu, terjadi pembahasan mengenai lagu-lagu penuh kegalauan ini di kantor saya. Diprakarsai oleh seorang teman, sebut saja dia om O, bukan inisial sebenarnya. Yang mungkin sudah bosan mendengar lantunan semua-lagu-galau nya Adele, medley Gravity nya John Mayer-Sara Bareilles, I won’t give up nya Jason Mraz sampai we are young nya Fun (oke, yang terakhir memang bukan lagu galau, tapi lagu ini sedang sangat sering sekali diputar di ruang kerja kita).

    Menurut om O, perbendaharaan lagu galau kita harus diperkaya, oleh karena itulah kita diperkenalkan kepada tiga lagu ini, the new (but old) anthem of galau-ness. Sebut saja Nothing Better nya The Postal Service, Part of Your History nya Blue Merle dan I see you you see me nya The Magic Numbers.

    Untuk liriknya, yang paling menyayat hati sih si Nothing Better nya The Postal Service yah, begini nih liriknya:

    Will someone please call a surgeon
    Who can crack my ribs and repair this broken heart
    That you’re deserting for better company?
    I can’t accept that it’s over
    And I will block the door like a goalie tending the net
    In the third quarter of a tied-game rivalry

    So just say how to make it right
    And i swear I’ll do my best to comply

    Tell me am i right to think that there could be nothing better
    Than making you my bride and slowly growing old together

    I feel I must interject here you’re getting carried away feeling sorry for yourself
    With these revisions and gaps in history
    So let me help you remember.
    I’ve made charts and graphs that should finally make it clear.
    I’ve prepared a lecture on why i have to leave

    So please back away and let me go
    I can’t my darling i love you so…

    Oh, oh

    Tell me am i right to think that there could be nothing better
    Than making you my bride and slowly growing old together
    Don’t you feed me lines about some idealistic future
    Your heart won’t heal right if you keep tearing out the sutures

    I know that I have made mistakes and i swear
    I’ll never wrong you again
    You’ve got a lure i can’t deny,
    But you’ve had your chance so say goodbye
    Say goodbye

    Jadi ceritanya lagu ini dinyanyiin bales-balesan gitu cewe-cowo, makanya liriknya yang kaya lagi adu argumen gitu antara 2 orang.

    Liriknya Part of History nya Blue Merle juga cukup menyayat hati, dan musiknya lebih bisa membuat galau, boleh di google dan dibuka Youtube nya jikalau penasaran. But my favorite is this one: I See You You See Me nya The Magic Numbers, tanpa bermaksud curcol atau apa, tapi lagunya menarik :). (liat postingan selanjutnya)



    Selamat menikmati, mari menggalau sambil bergoyang :))

  4. Paradoks, binatang apa itu?

    Beberapa waktu yang lalu gw mengunjungi abang, kaka ipar dan ponakan gw yang berdomisili di Jambi. Ya, Jambi yang ada di pulau Sumatera itu.

    Sambil menunggu pesawat take off menuju Jambi, gw iseng membaca majalah yang tersedia di depan kursi penumpang. Nama majalahnya persis dengan nama maskapai penerbangannya kalau tidak salah. Dengan cepat gw melakukan skimming melihat kalau-kalau ada artikel menarik untuk dibaca. Mata gw pun tertuju pada salah satu artikel yang gw lupa judulnya apa (ah ya, daya ingat gw memang seburuk itu). Artikel itu membahas tentang 7 buah paradoks yang paling umum dijumpai di semesta ini.

    Paradoks? Okeh, kata ini terdengar sungguh keren ketika diucapkan. Seperti misalanya suatu ketika lo terlibat dalam sebuah percakapan:

    A : Bro, galau nih bro, benci-benci rindu gitu rasanya tiap keinget sama dia, paradoks banget!
    B : Beehh, paradoks banget itu bro!

    Tsaaah, sedapp. Terlihat lebih berbobot gimana gitu kegalauannya.

    Menurut Wikipedia, Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; (2) asumsi; (3) kalimat atau proposisi yg dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dl logika), yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi

    Sebuah paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau “premis”nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul). Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan perkiraan yang tak diutarakan di paradoks yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains, filsafat, dan matematika.

    Bingung bacanya? Sama, gw juga. Hoho.

    Sejauh yang bisa gw tangkap, salah satu penafsiran dari paradoks itu adalah ketika kita berada di suatu situasi, dan hal yang kita rasakan terkait suasi itu berlawanan dengan apa yang seharusnya kita rasakan jika dirunut dari logika. Seperti satu contoh paradoks yang gw ambil dari artikel itu: Merasa sepi di tengah keramaian

    Seharusnya dua hal itu menjadi kontradiksi bukan? Karena logikanya ketika lo berada di tengah keramaian, mustinya sepi adalah hal terakhir yang dapat lo rasakan. Walaupun sejatinya gak selalu seperti itu. Karena paradoks yang satu ini, sepi di tengah keramaian ini, adalah salah satu paradoks yang kerap gw jumpai belakangan. Well, sepanjang masa PMS gw sih sebenernya. Damn you PMS period!!

    Paradoks sepi di tengah keramaian menjadi paradoks terakhir yang dibahas di artikel itu, ntah mungkin karena ini adalah paradoks klimaks, seperti cerita seru di akhir film dengan efek musik “jeng jeng jeng”, atau karena ini adalah paradoks yang paling sedih yang dapat terjadi? Well, paradoks lain seperti benci tapi cinta lebih menjurus ke unyu dibandingkan sedih menurut gw.

    Merasa kesepian ketika berada di tengah kemacetan saat berkendara sendirian menuju rumah di tengah malam adalah wajar menurut gw. Tapi kesepian di tengah keramaian? What could be worse? Yaa selain kombinasi antara kesepian di tengah keramaian lalu tetap merasa sepi ketika terkena kemacetan sewaktu sendirian di jalan pulang sih :p

    Lalu bagaimana cara menghindari paradoks ini? Yaaa, gw bukan ahli psikologi sih, bukan pula Mario Teguh yang mempu memberikan kata-kata manis penuh motivasi. Tapi jika lo terjebak dalam paradoks sepi di tengah keramaian, ada kemungkinan tempat itu bukanlah tempat dimana seharusnya hati lo berada. Cara paling simpel untuk mengakhirinya adalah, pulang. Not necessarily to your own house, but to the place where your heart belongs to, a home.

    Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, kemanakah mencari tempat untuk pulang itu? Well, ada kemungkinan tempat untuk pulang dari masing-masing kita akan berbeda. Some of us still looking for that kind of place, some of us have luckily found it.

    Kalau untuk gw, uhm yaa, gw punya keluarga, tempat untuk pulang termudah di muka bumi, juga teman-teman terbaik yang setidaknya bisa membuat tertawa ketika duka melanda. Tapi, karena manusia tidak pernah merasa puas, gw masih ingin punya tempat untuk pulang lainnya, seperti sebuah pelukan hangat yang menyambut tubuh yang lelah setelah berjuang melewati neraka bernama jalanan jakarta misalnya? Ah yaa, that would be very nice :).

    Well, mudah-mudahan tempat yang itu tidak terlalu sulit untuk ditemukan :D

  5. You know you’re in love with someone when…

    How do you know when you’re in love with someone? - I read about this topic in one of the tumblr that I followed. Ika Natassa’s blog.

    Interesting.

    The sign comes in lots of sentence that you’ll never get enough of them, I picked up some:
    - It’s when he’s the first thing that comes into you mind when you wake up and the last thing that you think of before you go to sleep — ah, I remember that time
    - When you’re having a really bad day and hearing his voice on the phone just makes it all go away — nod nod
    - When your face glows every time you meet him — haha, someone ever mentioned this to me
    - When you realize you can finish each other’s sentences — then we did flip-flop afterwards
    - When you remember him in your prayer — :)
    - When everything that makes him happy will make you happy, no matter how hurtful it is inside — silly, but what’s not silly about love? ;)
    - When you have your own nickname for him — ahh, yaaa, dudududu ~
    - When really you’re mad at him but all you want to do is cry on his shoulder — like it’s the best place to cry on :p
    - When you want to be the woman who makes him coffee and puts on his tie every morning — true :’)
    - When you find his boyish whining attitude is endearing — hahaha, yesss!
    - When you find his singing entertaining eventhough he can’t carry a tune — I couldn’t as well, then we can sing together, no tunes were needed :D
    - When you’re seriously thinking of getting a tattoo of his name on your left breast so he’s always close to your heart — bahaha, I know someone who might do this thing
    - When you want him to always be your ‘imam’ when you’re praying — this is what I always ask for
    - When everything could go wrong in the world and it’s okay, because he’s there, with you — just like that mocca’s lyrics “it’s you and me against the world ~”

    I could add some, mine were like:

    It’s when you’re waiting for his morning call/text each day. When your steps seem lighter each time you thinking of him that people can see you jumping all around as if a kidos getting his hands full of toys and gums. It’s when you surprisingly never get bored talking about some random things for about an hour or two in phone. When you start to relate every subject that people talking about to him. When time runs faster each time you’re hanging out with him, and stops whenever he is not around. When you make plan about the future, he is added to that plan.

    It’s when you like the way he talks, the way he smiles, the way his beard filling his face, the way he says your name, the way he acts, the way he makes a joke, well, everything. When traffics doesn’t bother you that much, because he’s sitting there beside you. When you’re planing to travel all around the world, and he’s the first person that comes up in your mind to accompany you all along. When you lying on your bed, and wish that he’s there, lying beside you someday. When a kiss from him on your forehead flies you away.

    When you think that he fits you in every aspects and hugging him feels so right.

    Yes, a thousand words would never be enough to explain. Because when you’re in love, there’ll be a million zillion feelings crosses you.

    True story ;)

  6. "Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

    Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.

    She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

    Buy her another cup of coffee.

    Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

    It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

    She has to give it a shot somehow.

    Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

    Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

    Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilightseries.

    If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

    You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

    You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

    Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.

    Or better yet, date a girl who writes."
    Rosemary Urquico (via blitzkreigkate)
  7. What happen with these Kids nowadays?

    Jadi gw punya adek, kelas 1 SMP. Baru saja ngetweet seperti ini:

    “Eh gila lu! Mau flashback lagi ma dia? Ternyata lu masih ada rasa juga ma mantan lo, ya!”

    Uhm well, oke deh dek! Gw tidak tau hendak berkomentar apa. Entah kenapa gw sedikit ragu adek gw, si anak kelas 1 SMP itu, yang masih berumur 13 tahun itu, cukup mengerti tentang apa yang baru saja dia tuliskan di social media.

    Oh yes, gw emang follow twitter adek gw, gw adalah seorang kakak yang kelewat kepo. But I won’t let her follow mine, muahahahaha (anaknya curang). Kasian dia nanti shock kalo tau kakaknya yang kalem pisan ini kalo di rumah aslinya tukang galau, hoho.

    Dilanda penasaran (plus kurang kerjaan), gw pun membuka timeline twitter adek gw secara utuh, melihat reply-reply-an dia dengan teman-temannya yang notabene masih bocah SMP juga. Lebih lanjut, gw bahkan membuka timeline dari beberapa teman-teman adek gw yang twitternya dia follow (iyee, gw emang segitu kurang kerjaannya).

    Dan terkejutlah gw. Ternyata isi twitter bocah SMP jaman sekarang itu gak jauh-jauh dari: cinta-cintaan, sindir-sindiran #nomention gak jelas, gosip sana gosip sini, misuhan yang juga gak jelas, dan kata ‘elaah’ yang terlihat dimana-mana. Yang bikin sedih, mereka terbiasa menggunakan kata-kata kasar berupa umpatan, baik dalam bahasa, maupun bahasa inggris yang seinget gw baru gw gunakan di penghujung SMA (what? gw emang berhati dan bertutur kata lembut gt anaknya :D).

    Mereka ngetweet seakan-akan setiap kondisi harus dikeluhkan. Contoh kasus ketika salah satu bocah SMP mengeluhkan tentang AC:

    1. Ini AC kapan sih gak dingin?! Eelah!

    2. Ah sarap nih AC! Ngajak ribut banget ACnya -___-“

    Well, entah AC di rumah dia suhunya gak bisa diatur menggunakan remote control, entah ngetweet tentang hal seperti itu menjadi hal yang sangat keren sekali di kalangan anak SMP jaman sekarang, misuh is one way to be cool nowadays for them I guess. Udah bagus di rumah dia ada AC, masih banyak orang-orang di luar sana yang tidak bisa menikmati fasilitas serupa, dik! #emosih

    Gw prihatin (maaf Pak Beye, istilahnya saya pinjem dulu). Dijaman gw SMP dulu, dan gw yakin banyak dari teman-teman angkatan gw juga mengalami hal serupa, hal-hal yang kita misuhkan gak jauh-jauh dari gak boleh hujan-hujanan bareng anak-anak cowo waktu lagi ujan, ga boleh sepedaan lagi di luar kalo udah mau masuk waktu magrib, disuruh mandi sore pas lagi nonton kartun, ga boleh baca komik sambil tiduran atau sambil makan, dan hal-hal simpel lainnya.

    Bukan misuhan tentang lelaki, bukan misuhan tentang ga boleh keluar di malam minggu, bukan keluhan tentang setiap hal yang sebenernya gaa perlu untuk dikeluhkan, bukan keluhan tentang cinta-cintaan yang entah mereka ngerti atau tidak artinya apa, dan bukan kegalauan ketika gebetannya tidak membalas cinta yang mereka rasa. For God sake, kalian masih kelas 1 SMP! Ada jutaan hal menyenangkan yang seharusnya mereka rasakan di umur semuda itu. Belum saatnya untuk bersedih berkeluh kesah dan dilanda gundah serta gelisah :(

    Tidak mengherankan kalau mal-mal jaman sekarang dipenuhi abg-abg labil dengan penampilan tidak sesuai umurnya. Tidak mengherankan anak-anak jaman sekarang lebih tidak peduli dengan sekitarnya. Tidak mengherankan kalau anak-anak jaman sekarang menghafal lagu cinta-cintaan dengan cengkok melayu mendayu-dayu yang tidak mereka pahami arti sebenarnya. Yes, children at my era used to sing Westlife and BSB songs back then, a lot of “cinta-cinta”-an song, but we could still sing Trio Kwek-kwek songs as well! Apa sekarang masih ada acara macam Cilukba dan Tralala trilili di stasiun TV swatsa? Tidak mengherankan Justin Bieber lahir di jaman ini #salahfokus #ganyambung #bodoamat :p

    Gw hanya berharap teman-teman adek gw di twitter merupakan sebagian kecil anomali dari keseluruhan anak SMP yang ada di bumi Indonesia ini. Gw hanya berharap tidak semua anak SMP berbicara menggunakan kata “elaah” berlebihan pada setiap kalimat yang diucapkannya. Gw hanya berharap mereka bisa menikmati masa kecil mereka dengan sempurna, tanpa pusing memikirkan hal-hal yang seharusnya baru dipikirkan oleh mereka yang sudah dewasa. Gw hanya bisa berharap, mereka, generasi penerus kita, bisa tumbuh dan bersikap sesuai dengan umurnya.

    PS: Dear my future child, enjoy your childhood as long as you can, will you? I’ll accompany you playing petak umpet, galasin, main karet, sepeda, masak-masakan, benteng and stuffs. A lot more fun than that tiny electronic boxes they use to chat or tweet or fb-ing whatsoever :)

  8. lovequotesrus:

    Photo Courtesy: jaclynnicolee

    nod nod

  9. Jika lo lahir pada tahun 80-an akhir atau 90-an awal, kemungkinan besar lo akan mengenal lagu ini.Theme song penutup dari salah satu film kartun favorit gw semasa kecil, yang diputar di TPI setiap sore, Mojacko.

    Ada rasa riang yang menular setiap mendengar lagu dengan judul asli “if my lover was an alien” ini, ntah kenapa. Gw dan rekan kerja gw memutar lagu ini nonstop, mulai dari versi aslinya hingga beberapa cover version nya, dari pukul 7 hingga 11 malam. Lagu ini dengan anehnya membuat kita ceria dan tetap bersemangat. Seakan ada sihir moja moja di sana. Haha.

    So, I wanna share the exact feeling that I feel each time I listening to this song. Enjoy. And happy moja moja! :D

  10. Keegoisan gw, keegoisan tingkat Hercules

    Pikiran gw sering berkembang dengan randomnya. Apalagi ketika sedang menyetir sendiri di malam hari. Sebagai contoh malam ini, ditengah keasikan menunggu lampu merah sambil menscroll layar hp untuk melihat timeline jejaring sosial dengan lambang burung biru unyu itu, mata gw tertegun ke salah satu tweet milik seorang teman, junior gw di kampus.

    Kalau tidak salah tweetnya menyatakan bahwa tanpa terasa ia telah berkuliah selama 4 tahun. Uhm well, jika adek kelas gw yang notabene lebih muda dari gw itu sudah berkuliah selama 4 tahun, then, brarti gw sudah melewati masa-masa itu lebih dari 4 tahun dong otomatis? Ditambah lagi fakta bahwa sudah genap setahun gw lulus kuliah. Oh shoot, I’m old!

    Haha, time flies, eh?

    Waktu berjalan, umur bertambah, tapi kelakuan gw tetap bertahan seperti ini. Tingkat kedewasaan tetap tidak berubah secara signifikan. Gw masih menjadi anak egois yang sama. Tingkat keegoisan yang gw pilih, yang menghalangi gw untuk menjadi dewasa.

    Ya, menurut mereka menjadi dewasa itu pilihan bukan? Dan ternyata gw memilih untuk memenangkan keegoisan yang gw punya.

    Pada dasarnya setiap manusia memiliki keegoisannya masing-masing. Kita bukan malaikat. Hawa nafsu yang dianugrahi untuk melengkapi raga kita, berkembang menjadi beberapa sikap dan sifat. Termasuk di dalamnya keegoisan.

    Egois berarti mementingkan diri sendiri. Persis seperti tingkah polah warga jakarta di pagi hari. Menggunakan jalan raya seolah-olah masing-masing dari mereka memiliki kepentingan tingkat menteri. Seperti supir bus kota yang dengan egoisnya berhenti di tepi jalan raya. “saya butuh berhenti untuk cari penumpang”, mungkin begitu kilah mereka. Peduli setan dengan jalanan yang kemudian menjadi terhambat, lalu berubah padat, berhenti tersendat.

    Lalu apa yang melatarbelakangi terjadinya hal tersebut? Si supir kurang berpendidikan? Kurang memiliki tata krama? Latar belakang ekonomi? Lalu apa kabar pejabat pemerintah dengan gelar strata 1, 2, 3 di belakang namanya yang dengan egoisnya mengorbankan negara, rakyat dan bangsa demi kepentingan pribadinya semata? Lalu apa kabar para jutawan pembakar hutang penebang pohon dan penambang liar di luar sana? Mereka butuh uang? Tidak, uang mereka sudah lebih dari cukup, dan tetap dengan egoisnya mereka merusak bumi, menggusur pemilik alami dari ekosistem yang mereka rambah sesuka hati. Apakah mereka peduli? Karena rencana reboisasi atau pengolahan limbah mereka tidak lebih dari sekedar basa basi.

    Bukan, gw bukan ingin berkampanye membela lingkungan hidup atau berkoar-koar berdemo di jalanan layaknya mahasiswa yang katanya membela kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Gw pun tidak lebih baik dari mereka semua.

    Gw pun termasuk ke dalam golongan itu, golongan manusia-manusia egois yang terkadang kehilangan rasa peduli. Gw masih menggunakan mobil pribadi. Dengan egoisnya gw menambah macet jalanan jakarta. Dengan egoisnya gw menambah polusi yang berkumpul di atmospher akibat gas buangan dari kendaraan yang gw naiki. Dengan egoisnya gw ikut mengonsumsi bahan bakar yang butuh jutaan tahun untuk terbentuk, dan tidak dapat diperbaharui.

    Lebih parah, dengan egoisnya gw berkata tidak, atas permintaan yang selama beberapa tahun terakhir diajukan oleh kedua orang tua gw. Mungkin ada tangis yang menetes di sana, ada kesedihan yang mereka rasa, atas penolakan gw, yang padahal bersifatsementara. Tapi apakah mereka memaksa? Tidak, mereka hanya terlalu ingin, dan gw dengan egoisnya belum mampu mengesampingkan hal-hal lain, untuk menuruti permintaan mereka.

    Apakah keinginan mereka dapat disebut sebagai suatu keegoisan? Mungkin, tapi keegoisan gw jauh di atas mereka. Karena mereka orang tua. Insan egois yang paling tidak egois di semesta ini. Mereka bersedia menunggu. Tetap berharap. Tapi rela menunggu. Mencerminkan tingkat kedewasaan yang belum gw miliki.

    Ya, orang tua tertempa menjadi dewasa dengan sendirinya. Mengalahkan ego untuk berjuang membesarkan anak yang dimiliki. Mengalahkan ego untuk mendampingi pasangan yang dinikahi dengan seluruh kekurangan dan kelebihan yang dipunyai. Mungkin untuk seumur hidupnya. Mengalahkan ego untuk mengorbankan keperluan pribadi, dan mencukupi keperluan yang keluarganya ingini. Mereka telah terlatih mengalahkan ego, kemudian secara alami menjadi dewasa. Tingkat kedewasaan yang masih jauh dari jangkauan gw.

    Ya, gw masih egois. Seegois sikap gw yang meminta untuk dituruti. Keinginan untuk tidak terikat, tidak ingin dimiliki. Walaupun tanpa sadar gw kembali menyakiti. Gw memiliki keegoisan tingkat Hercules. Ya, at least masih setengah dewa. Keegoisan tingkat dewa itu milik pihak-pihak yang berkuasa di luar sana, pemangku kepentingan dengan kendali serasa raja.

    Bukan berarti gw tidak ingin menjadi dewasa. Gw sedang dalam tahap belajar. Pembelajaran otodidak yang tidak berjalan terlalu efektif agaknya. Dan gw ragu waktu rela menunggu.

    Tahun ini, 23 tahun akan terlewati. Gw pasti akan bertambah tua jika umur masih ada. Tapi bertumbuh menjadi dewasa? Haha. Semoga. Karna keegoisan yang gw punya hanya membuat lelah. Mungkin butuh sedikit lagi usaha ekstra untuk membuat mereka menyerah :).

    *See how random my thought could be? Bahkan ini hanya satu pemberhentian lampu merah berdurasi 1,5 menit :D

About me

I’m not a psychologist, nor that kind of person that can motivate people as that Golden-Ways-Thingy. To be honest, I took Accounting back then.

I wrote thoughts, expressions, notes, each random thing that crosses my mind unexpectedly.

I’m a daughter, a sister, a friend. Such an impulsive person. A Leo, definitely. Although some people might think I’m not :D.

I give you one tips in reading this tumblr of mine, quoted from the famous ‘The Dark Knight’ movie, don’t take these writing too serious, why so serious? :)

Enjoy!

Likes